“BROMO”
Siapa yang gak kepengen ketika ada yang menyebut tempat itu. Yah, menurut
wikipedia bromo adalah gunung berapi yang masih aktif dan
paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung
berapi yang masih aktif.
Bromo mempunyai ketinggian
2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan,Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai
dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.
Gunung Bromo mempunyai
sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter
(timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4
km dari pusat kawah Bromo.
Gak perlu panjang lebar,
langsung saja, Alhamdulillah mimpi untuk bisa menikmati keagungan Allah di
kawasan gunung Bromo tercapai juga. Berawal dari sebuah rencana untuk mengisi
liburan di semester 3 ini kami (mbah fuad, amri, faris, adin, alip, dan roni)
merencanakan untuk berlibur ke Malang dan sekitarnya. Awalnya kami ber enam
tidak merencanakan untuk menjelajahi gunung Bromo. Jatim park, BNS, WBL lah
yang awalnya kami jadikan obrolan. Yah, tiket menuju kota Malang akirnya
berhasil kami pesan pada tanggal 8 Januari 2013. Karna konsepnya liburan kali
ini adalah backpacker maka kami memesan 6 tiket ekonomi yang murah dan sangat
terjangkau. Namun karena tidak ada kereta ekonomi Jogja-Malang, dan kota
terdekat untuk menuju ke Malang adalah Surabaya maka dipesanlah tiket kereta
Gaya Baru Malam Selatan (GBMS) seharga 33.500K untuk keberangkatan tanggal 21
Januari 2013. Biar gak kebingungan cari tiket saat mau pulang akirnya kami juga
membeli tiket pulang tanggal 24 Januari 2013 siang. Sedikit melenceng dari
rencana kami untuk berangkat pada hari minggu 20 Januari 2013, namun tidak
masalah karna kami ber 6 sepakat dan semuanya menyetujui.
Tiket jogja-surabaya sudah
ditanggan. Dan keberangkatan masih 2 minggu lagi, kebetulan 2 minggu itu adalah
penentu nasib kuliah kami selama di semester 3 itu (Ujian akir semester) .
Sambil mempersiapkan rute perjalanan dan lain sebagainya sempet terfikir
dibenakku untuk merubah rute perjalanan. Penasaran dengan GUNUNG BROMO, akirnya
kubuka leptop dan iseng2 googling perjalanan menuju ke bromo, cari info yang
seabrek tentangbromo. Setelah berhari2 (berjam2 ding) berada di dunia maya,
akirnya kutemukan sebuah cerita di blog yang lumayan bisa dijadikan untuk
motivasi dan referensi perjalanan. Melihat blog tersebut, yang hanya dengan
budget 300k sudah bisa sampai menyusuri Bromo akirnya kutawarkan ke 5 teman ku
yang sebetulnya mereka “manut” kalu diajak kemana aja (asal gak diajak nyebur
jurang).
Setelah melalui perdebatan
yang sangat panjang, kami ber 6 mantap memutuskan untuk merubah perjalanan kami
ke BROMO, tapi rencana untuk menjelajahi malang tetap tidak kami batalkan.
Senin, 24 Januari 2013.
Berawal dari keberangkatan
menuju Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, tepat pukul 19.00 sampailah aku di kontrakan
“Ceria” tempat kami berkumpul. Meski hujan badai membasahi bumi Yogyakarta pada
hari itu, akhirnya kami ber 6 berkumpul tepat pukul 20.30, yah 30 menit sebelum
keberangkatan kereta. Setelah kami berkumpul, langsung menuju mobil yang saya
siapkan untuk mengantar kami ber 6 menuju Lempuyangan. Sampailah kami di
stasiun Lempuyangan dan langsung masuk menuju peron.
Berhubung jam
keberangkatan masih sekitar 30 menit an lagi timbullah niat jahat untuk
“menarsis” ria dan dikeluarkan lah sebuah senjata untuk “njepret”. Belum sempat
melakukan kejahatan di peron stasiun tersebut tiba2 ada sebuah security yang
mendatangi dan berkata “ma’af mas,
dilarang berfoto2 di dalam stasiun” sontak kami semua kaget dengan
perkataan security tadi, karna kami ber 6 pada dasarnya adalah orang yang
baik-baik langsung saja kumasukkan kamera kembali kedalam tas. Dan gagal lah
misi kami untuk mengabadikan momen sebelum keberangkatan kami. Suara khas
stasiun kereta berbunyi dan memberitahukan bahwa kereta kami mengalami keterlambatan
1,5 jam dari jadwal. Spontan kami ber 6 berteriak sebagai ungkapan kekecewaaan
atas keterlambatan kedatangan kereta kami. 1,5 jam bukan lah waktu yang
sebentar untuk menunggu. Hanya bosan lah yang berada di benak kami. Andaikan
tidak dilarang berfoto di stasiun, tidak akan ada rasa bosan yang mengahampiri.
Satu setengah jam berlalu, akirnya kereta kami datang dan berhenti di stasiun
Lempuyangan. Langsung saja kami naik ke kereta tersebut dan duduk di kursi yang
kami sesuai dengan tiket. Tidak lama kemudian kereta mulai berjalan, dan kami
pun tertidur di dalam kereta tersebut.
| Stasiun Gubeng Surabaya |
Sampailah di desa Cemoro
Lawang Ngadisari, karna saat masih di probolinggo tadi saya sudah tanya2 untuk
penginapan maka berhentilah bison tersebut di sebelah homestay/penginapan. Setelah
perjalanan panjang dan rasa ingin segera menidurkan badan sejenak langsung saja
kami check in, tentunya dengan menawar harga sewa kamar tersebut, karna kami
ber 6 kami sewa 2 kamar yang masing2 kamar terdiri dari 2 bed yang cukup buat
tidur bertiga.
Karna penasaran dengan
keindahan gunung bromo, bergegaslah kami untuk keluar dari penginapan dan
hilanglah niat untuk beristirahat seejenak. Jaket tebal, syal, masker, sarung
tangan dan kupluk sudah kami kenakan, karna hawa dingin di sekitar bromo cukup
extreme sekali. Yah berjalanlah kami ke semuah tebing dan Subhanallah, maha
besar Allah gunung bromo dan gunung bathok terlihat dari atas tebing tersebut,
meskipun agak tertutup kabut. Dari tebing tersebut terdapat jalan setapak yang
digunakan warga setempat untuk turun ke kaki gunung bromo, tanpa pikir
panjang kami langsung beranjak melewati jalanan kecil tersebut yang penuh dengan
kotoran jaran. Dilihat dari atas tebing posisi gunung bromo hanya lah 1km dari
kami berdiri. Ternyata setelah kami jalan menuju kesana MasyaAllah, “uadohhh tenan”. Dengan semangat yang membara sampailah kami di bawah gunung bromo, karna
kami ber 6 belum sarapan maka dibelilah 1 mangkuk mie instan rebus seharga 5K,.
Mie instan sudah berpindah ke dalam perut kami, di sebelah tenda tempat kami
beli mie terdapat ibu2 yang berjualan bunga edelweis, cukup menarik untuk di
bawa pulang, dengan harga 10K lumayan buat oleh2 pacar atau keluarga dirumah hehe. Naiklah kami
ke puncak bromo dengan melewati gundukan pasir yang cukup terjal dan sampailah
ke anak tangga.
Anak tangga yang kurang tau berjumlah berapa itu cukup membuat
kami ber 6 merasakan capek yang luar biasa namun setelah sampai di puncak rasa
capek hilang dengan sendirinya.
| Tangga menuju puncak kawah bromo |
Puncak bromo sudah kami
takhlukkan dengan berjalan kaki. Puas berfoto2 diskitar bromo bergegaslah kami
turun dan menuju penginapan. Sampai penginapan tepat pukul 16.00 sore dan kami
ber 6 langsung tidur, tapi tidak lupa sholat dhuhur dan asar dulu.
Rabu, 23 Januari 2013
Tepat pukul 03.00 pagi
kami sudah terbangun karna alarm yang sudah kami set jam segitu. Bangun dan mematikan
alarm dan tidur lagi. Rencana kami pagi itu adalah menuju pananjakan2 Ojek yang
kami sewa sudah berjejer di depan penginapan. Karna kami br 6 maka disewalah 3
ojek seharga 300K yang siap mengantar kami ke semua tempat indah di sekitar
bromo. Pukul 04.15 kami berangkat menuju penanjakan2 dan udara pagi di kawasan
bromo sangat “anyes”(dingin) sekali. Samapailah kami di parkiran pananjakan2. Dari
parkiran kami harus naik ke atas dngan berjalan kaki, kurang lebih 30 menit
kamiberjalan menuju keatas pananjakan 2. Sampailah di pananjakan2 dengan hawa
dinggin yang super ekstrem. Dan ternyata rombongan kami lah yang pertama
menginjakkan kaki di atas pananjakan, Di samping kami duduk terdapat ibu2 yang
berjualan minuman hangat, seperti kopi, energ#n dan lain sebagainya. Gelas berisi
minuman hangat sudah kami pegang, dan panas pada minuman tersebut langsung
hilang dengan perlahan karna saking dinignya pananjakan2. Setelah kami ternyata
banyak wisatawan baik lokal maupun turis dan berdatangan. Mereka dan kami
berharap cuaca pagi itu cerah dan tidak berkabutsehingga kami dapat melihat
keindahan matahari menampakkan wujudnya.
Karna kebetulan kabut yang
tebal menyelimuti sekitar pananjakan matahari pun malu2 menunjukkan keidahanya,
hanya sempat melihat sinar merah dari matahari yang sangat singkat sekali. Dan inilah
yang kami dapatkan di atas pananjakan2.
Rasa
kecewa karna tidak bisa melihat sunrise kami abaikan, karna masih ada
harapan menuju padang savana/ bukit teletubies yang katanya tidak kalah indah. Turun
dari pananjakan disambutlah kami oleh ojek yang kami sewa tadi dan tapa basa
basi langsung saja menuju bukit teletubies. Kabut tebal dan grimis menyelimuti
perjalanan kami menuju bukit teletubies. Setelah membayar retribusi sebesar 30K
untuk kami ber 6 lanjutlah kami memasuki padang pasir yang sangat luas yang
orang situ menyebut pasir berbisik. Lagi2 Hujan menemani perjalanan kita menuju
bukit teletubies tersebut. Sampailah kami di sebuah tempat parkir dan masuk lah
kami di bawah tenda tempat ibu2 berjualan untuk bertduh dan menghangatkan
tubuh. Harga minuman disini standar 5K untuk segelas kopi, energ#en, jahe dsb.
| Sunrise yang singkat |
Hujan dan kabut menutupi
pandangan kami dan belum nampak keindahan bukit teletubies yang kami harapkan
bakalan lebih indah dari pananjakan2. Yah, dan lagi2 kami kecewa dengan cuaca
yang kurang bersahabat dengan kami. Meski begitu kami tidak lupa mengabadikan
keindahan bukit teletubies yang terhalang kabut. Dari bukit teletubie kami
beranjak menuju pasir berbisik. Lagi2 hujan
menemani perjalanan kami. Sampailah kami di sebuah tempat pasir terhampar luas
dan tertutup oleh kabut. Tidak lama kami disitu karna hujan masih menemani
kami. Setelah puas berfoto2 kami melanjutkan perjalanan pulang menuju
penginapan. Sebetulnya masih ada 1 temapt yang sesuai kontrak kami dengan tukan
ojek yaitu “batu singa”, karna hujan masih menemani kami maka kami batalkan
untuk menuju “batu singa”. Sampailah kami di penginapan dan langsung
terkaparlah kami di penginapan.
| GunugnBathok |
Kembalilah kami ke penginapan untuk mengambil barang2 kami dan bergegas turun mencari si Agung (calo bison) yang sudah janji mau menjemput kami ber 6. Ternyata agung gak menepati janji, yah setelah kami konfirmasi keberadaan dia ternyata masih ebrada di Pangkalan Bison Kota probolinggo. Namanya juga Calo dia langsung menawarkan jemputan pada kami dengan tarif 30K per orang. Leih mahal 5K dari tarif yang sebenarnya. Dengan cepat kami menolak tawaran tersebut dan langsung lah kami naik bison yang sudah stay di dekat penginapan. Di dalam bison kami hanya br 6 dan 1 orang turis manca asal jepang. Lagi2 sopir PHP, karna kami hanya ber 7 (temasuk turis) ditawarkanlah harga 30rb untuk perjalanan turun ke kota probolinggo. Kami tanya alasannya ternyata kalau hanya 7orang X 25.000 supir akan rugi, oleh karena itu sopir menaikkan harga menjadi 30rb dengan fasilitas tambahan “NO STOP-STOP” alias tidak berhenti2. Maksut dari NO STOP-STOP adalah sopir tidak menaikan penumpang lagi selama di perjalanan. Setelah si fuad menawarkan tarif 30K kepada turis jepang tersebut dengan bahasa dia sontak si turis terkaget dan berkata “Why” dan terkaget2. Fuad berussaha menjelaskan alasan si supir menaikkan tarif angkotnya. Yah lagi2 keberuntungan tidak berpihak pada kami, dan turis tersebut lebih memilih untuk pulang besok dan menyewa penginapan lagi daripada membayar 30K. Tinggal lah kami ber 6 di dalam angkot, dan molor lah perjalanan kami turun menuju terminal probolinggo.
Untungnya sopir tidak
menawarkan harga spesial buat kami ber 6. Bisa2 per orang ditarif 50rb untuk
samapai di kota probolinggo. Busyet dahhh!!. Setelah menunggu satu jam lamanya dan
perut kami yang belum terisi nasi dari pagi akhirnya datanglah 6 orang turis
yang katanya hari itu juga mau meninggalkan cemoro lawang, yah merekalah
harapan kami. Setelah si sopir mendatangi mereka, kabar bagus datang menghampiri
kami. Turis tersebut bersedia untuk turun bersama kami dan kami harus menunggu
mereka packing dan makan siang. Sudah 2 jam kami menunggu di angkot. Dan angkot
bergegas berjalan naik ke depan penginapan 6 orang turis itu brada. Ternyata eh
ternyata ke 6 turis tersebut tidak “rumongso” kalau sudah kami tunggu. Mereka malah
berasik2an di dalam rumah makan penginapan mereka yang terlihat jelas dari
kaca jendela tempat bison terparkir di depannya. Menunggu adalah hal yang paling membosankan
apalagi dengan perut yang belum terisi oleh sesua nasi pun. Setelah 30 menit
lebih menunggu, ke 6 turis tersebut masuk ke angkot dan berjalanlah angkot
tersebut.
Kali ini sang sopir tidak
ditemani seorang “kenek”, artinya bison akan terus melaju sampai terminal
Probbolinggo. Kabut yang tebal diterjang begitu saja. Dan sampailah kami di
terminal Probolinggo. Samapai terminal yang pertama kali kami cari adalah
warung makan. Setelah dapat kami memesan beberapa makanan dan sambil menunggu
pesananan kami datang kami bergantian untuk mandi dan sholat di lingkungan
terminal tersebut. Di tempat itu kami putuskan untuk memending liburan ke
Malang, karna sudah terlalu capek di bromo dan budget kami sudah membengkak
untuk Bromo saja. Tepat pukul 17.15 kami berangkat dari terminal menuju
Surabaya, Bus AKAS ASRI yang akan mengantarkan kami menuju Surabaya. Dengan tarif
13k dan perjalanan selama 3 jam kami sudah diantarkan ke surabaya. Sampai purabaya
kami bergegas turun dan keluar dari terminal. Sampai depan gerbang keluar
terminal Amri mulai gelisah, Tripod (penyangga kamera) yand dia bawa ternyata
masih tertinggal di alam bus. Dan lagi2 kberuntungan tidak di pihak kami. Apa boleh
buat kami terpaksa mengikhlaskan tripod tersebut. Lantas kami cari angkot
tujuan StasiunGubeng. Kami harus oper angkot untuk menuju stasiun gubeng
surabaya. Dengan tarif 6k seharusnya kami sampai stasiun gubeng. Sewaktu oper
angkot kami ber 6 lupa mengkode supir untuk berhenti di stasiun gubeng. Akhirnya
nasib kurang beruntung lagi yang kami dapat. Stasiun gubeng sudah kami lewati 3
kilo yang lalu. Begitu amri tanya sopir “Stasiun gubeng masih jauh pak??”
langsung hboh sang sopir, wahhhhhhh kog tadi gak bilangg mau turun di Gubng
mas, udah lewat 3 kilo yang lalu mas. Langsung lah kami turun dari angkot dan
brjalan balik ke arah stasiun.
Sebenarnya kami disarankan
untuk naik angkot F lagi, karna kelihatanya jalan lebih asyik dan jarak juga
tidak terlalu jauh maka kami putuskan untuk berjalan. Berhenti sjenak di depan Mall
yang sangat sepi. Ternyata di surabaya banyak sekali terdapat Mall yang pailit
alias bangkrut. Setelah berhenti untuk mengistirahatkan kaki kami melanjutkan
perjalanan. Tinggal 1KM lagi dan caek sudah mulai megampiri, dari banyak angkot
yang berhenti menghampiri kami ber 6 dan kami tolak karna niat kami adalah
untuk jalan kaki. Lagi2 sebuah angkot menghampiri dan menyuruh kami naik angkot
dan si supir berteriak “GRATISSSSSS” ternyata angkot yang menhampiri kami adalah
angkot yang kami naiki tadi. Sang supir yang baik hati ternyata masih ingat
dengan kami, bergegaslah kami naik angkott GRATIS itu kembali dan diantarkan
samapai depan stasiun gubeng. Dan ternyata betul kami ber 6 tidak di pungut
biaya alias GRATISS. Turun dari ankit langsunglah kami bersandar di tembok
stasiun Gubeng lama, ternyata stasiun gubeng terbagi menjadi 2 yaitu Gubeng
Lama dan Gubeng Baru.
Tepat di depan emperan
gubeng lama terdapat sebuah angkringan yang menjajakan sajian khas brselera
(lagu yogyakarta) wkwkw. Karna perut terasa lapar kami bergantian mendatangi
ankringan tersebut. Setelah adin, fuad, roni, alip kenyang mengisi perutnya
tinddal giliran ku dan amri. Karna belum terasa lapar maka aku ber2 tidak
langsung makan tapi menuju mushola dengan mengajak roni untuk sholat isya’ dan
maghrib. Dan kami bergantian sholat lagi. Samapai situ kami belum kepikiran mau
tidur dimana karna tiket pulang yang kami pesan berangkat pada siang hari jam
14.00. setelah aku fuad dan amri survei di stasiun gubeng baru ternyata ada
barisan kursi yang berjejer yang disediakan untuk ruang tunggu. Akirnya kami
berpindah di gubeng baru dan beristirahat di atas kursi tersebut.
Pagi mulai menghampiri,
suasana stasiun menjadi ramai pnuh dengan penumpang yang berwira wiri di
stasiun. Selama 14 jam kami berada di stasiu gubeng. Setelah mengisi perut dan
mandi tinggal 1 jam sblm keberangkatan bergegaslah kami memasuki peron Stasiun
Gubeng. Yang kami cari pertama adalah FREE CHARGER, yah, buat mengisi kembali batrai
hape yang sudah sekarat.
Menunggu 1 jam lamanya akirnya kereta GBMS berhenti di
stasiun gubeng untuk menjemput kami dan penumpang lainya tepat pukul 14.00
kereta berangkat. 5 jam berlalu dan Alhamdulillah akhirnya sampailah kami di
Jogjakarta.
| Free Charger |
Liburan kali ini
memberikan banyak pengalaman kepada kami ber 6. Meskipun sedikit kecewa karna
cuaca kurang bersahabat namun liburan kali ini sangat2 lah berkesan, 300rb
sudah bisa sampai bromo, Rincian biaya bisa dilihat di sini. Next time Semoga bisa mengunjungi BROMO lagi bahkan gunung sebelahnya alias Mahameru dengan
cuaca yang lebih baik. Cukup sampai disini cerita perjalanan kami. Dokumentasi bisa dilihat di sini. Daaaaaaaaaaa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar